EMPOWERS IDR

Penelusuran Data IDR
Telusuri data di dalam IDR kami menggunakan fungsi penelusuran lengkap (advanced).
Update Data IDR Terbaru

Lihat data yang sudah kami tambahkan ke IDR dalam seminggu terakhir.
Pedoman Unggah Mandiri
Sebelum mengupload dokumen, pastikan membaca Pedoman Unggah Mandiri untuk Depositor.
Traffic Pengunjung

Lihat traffic IDR kami. Dari mana mereka datang, device yang dipakai, konten apa saja yang mereka akses - cari, etc.

Ayat Pedang Versus Ayat Damai: Menafsir Ulang Teori Naskh Dalam Al-Qur'an

Wardani, Wardani (2011) Ayat Pedang Versus Ayat Damai: Menafsir Ulang Teori Naskh Dalam Al-Qur'an. Badan Litbang dan Diklat, Jakarta. ISBN 978-979-979-337-7

[img] Text
Buku_Ayat Pedang_Wardani.pdf

Download (64MB)

ABSTRAK

Metode yang diterapkan dalam kajian ini adalah dengan menganalisis dan mengkaji secara kritis pendapat-pendapat beragam para penafsir al-Qur'an tentang isu-isu tersebut, khususnya isu penganuliran. Dengan menerapkan analisis wacana kritis Teun van Dijk, kajian ini mencoba mengaitkan pendapat-pendapat beragam para penafsir al-Qur'an tersebut sebagai teks dalam hubungannya dengan konteks ideologis, politis, dan historis. Riset ini sampai pada kesimpulan berikut. Pertama, istilah ayat pedang tersebut muncul dari statemen 'Ali bin Abi TAlib (w. 40 H), sebagaimana diriwayatkan oleh SufyAn bin 'Uyaynah (w. 198 H), bahwa Nabi Muhammad diutus dengan pedang, dengan merujuk kepada Q.9/113:5. Statemen ini kemudian memicu perdebatan di kalangan para penafsir al-Qugan, termasuk tentang keberlakuannya. Ada empat pendapat yang berkembang, yaitu pendapat bahwa ayat tersebut muhkam, rnenganulir (ndsikft) ayat lain, teranulir (mansttkh) secara internal, atau teranulfu (rnansfikh) dengan ayat lain. Pendapat yang paling kontroversial adalah bahwa ayat ini dianggap menganulir banyak ayat damai (yang sering disebut sebagai ayat-ayat kesabaran, pemberian maaf, atau ayat rekonsiliasi) yang mencapai seratus tiga puluh lima ayat yang memerintahkan agar kaum muslim bersifat toleran dengan komunitas-komunitas nonmuslim. Kedua, kontroversi tersebut terjadi karena beberapa faktor, yaitu perdebatan klasik tentang keberadaaan teori penganuliran (naslkh), penafsiran yang tidak orisinal, seperti persoalan bagaimana mempertemukan pesan partikular-universal ayat, problem semantik, ketegangan anlara otoritas keagamaan dan akal, bias teologis, bias juridis, dan bias sufistik, serta konteks sosio-historis dan politis, seperti konteks perang Salib dan menguatnya gerakan ke arah Islam politis. Ketiga, penganuliran ayat-ayat damai dengan ayat pedang tersebut, yang berpengaruh besar dalam perumusan fiqh jihAd, berakibat terjustifikasinya kekerasan terhadap non-muslim.

Item Type: Book
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
Depositing User: Mr. Moch Isra Hajiri
Date Deposited: 10 Mar 2017 06:31
Last Modified: 13 Mar 2017 04:20
URI: http://idr.iain-antasari.ac.id/id/eprint/7604

Actions (login required)

View Item View Item