EMPOWERS IDR

Penelusuran Data IDR
Telusuri data di dalam IDR kami menggunakan fungsi penelusuran lengkap (advanced).
Update Data IDR Terbaru

Lihat data yang sudah kami tambahkan ke IDR dalam seminggu terakhir.
Pedoman Unggah Mandiri
Sebelum mengupload dokumen, pastikan membaca Pedoman Unggah Mandiri untuk Depositor.
Traffic Pengunjung

Lihat traffic IDR kami. Dari mana mereka datang, device yang dipakai, konten apa saja yang mereka akses - cari, etc.

Dinamika Kajian Tasawuf Di Kalimantan Selatan: Survei Bibliografi

Abidin, M. Zainal (2016) Dinamika Kajian Tasawuf Di Kalimantan Selatan: Survei Bibliografi. In: Transpormasi Sosial Dan Intelektual Orang Banjar Kontemporer.

[img] Text
Zainal Abidin. Kajian Tasawuf di Kalsel.pdf

Download (370kB)

ABSTRAK

Kalimantan Selatan merupakan salah provinsi di pulau Kalimantan yang dihuni oleh mayoritas suku Banjar. Orang Banjar dikenal sebagai pemeluk agama Islam. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah pemeluk Islam di Kalimantan Selatan mencapai 3.505.846 jiwa atau sekitar 96, 67%. Prosentasi jumlah yang besar ini tentu bukan sesuatu hal yang terwujud secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari usaha-usaha dakwah para tokoh agama Islam, terutama mereka yang disebut ‘ulama’. Tidak ada informasi yang rinci mengenai siapa ulama yang pertama kali mengajarkan agama Islam di wilayah Banjar. Islam diperkirakan masuk ke daerah ini pada abad ke- 16. Riwayat yang didapatkan dalam Hikajat Bandjar menyebutkan, Sultan Banjar pertama yang memeluk agama Islam adalah Pangeran Samudera, yang kelak disebut Sultan Suriansyah (w. 1550). Ketika itu, sang pangeran ingin merebut kembali kekuasaan dari pamannya, Tumenggung. Karena merasa tidak mungkin mengalahkan pasukan pamannya, ia kemudian meminta bantuan Kerajaan Demak di Jawa. Demak menyatakan siap membantu dengan syarat sang pangeran mau memeluk Islam. Pangeran Samudera pun bersedia memeluk Islam. Maka dikirimlah pasukan dari Demak bersama seorang penghulu bernama Khatib Dayyan, yang akan mengajarkan agama Islam. Singkat cerita, sang pangeran akhirnya berhasil meraih kekuasaan. Gelar Sultan Suriansyah untuk sang pangeran, konon diberikan oleh seorang ulama keturunan Arab, yang namanya tak disebutkan. Sebagaimana juga terjadi di berbagai daerah lainnya di Indonesia, Islam masuk ke Kalimantan Selatan bersama faham tasawuf, bahkan mengarah pada sufi-akidah (mistik). Dalam piagam Kerajaan Banjar yang berbentuk segi empat, di tengah-tengahnya tersusun angka-angka huruf Arab, suatu kebiasaan yang dipercaya mengandung kekuatan gaib dan digunakan dalam aliran magic dan dinamisme di Persia, dan pada samping bawah batu tertulis “Lâ Ilâha illallâhua, Allâhu maujud aku”, kalimat yang biasa dipergunakan oleh sebagian pengikut aliran wihdatul wujud. Bahkan Khatib Dayyan yang dikirim sebagai wakil Demak ke Banjar juga merupakan seorang sufi. Meski Islam dinyatakan sudah masuk ke wilayah Banjar sejak abad ke-16, namun Islamisasi yang intensif baru dimulai di abad ke-18 dengan tokoh sentralnya Muhammad Arsyad al-Banjari (1712-1810 M), tepatnya setelah beliau pulang dari Mekkah, tempat beliau menuntut ilmu agama selama lebih dari 30 tahun. Selain menjabat sebagai penasihat sultan, Arsyad al-Banjari juga mengajarkan agama Islam di masyarakat, baik secara lisan ataupun tulisan. Walaupun karya-karya beliau yang dapat ditemukan semisal Tuhfah al-Raghibîn dan Sabîl al-Muhtadîn lebih menyorot pada bidang akidah dan syari’ah, bukan berarti beliau awam dengan tasawuf. Beliau adalah teman seperguruan Abd al-Shamad al-Palimbani, pengarang kitab tasawuf berbahasa Melayu, Hidâyat al-Sâlikîn dan Saîr al-Sâlikîn, serta murid dari pendiri Tarekat Sammaniyah, Muhammad Samman al-Madani (1719-1775). Tentunya keilmuan beliau di bidang tasawuf tidak perlu diragukan, walaupun pada faktanya, beliau lebih suka mengajarkan masalah akidah dan syari’ah karena beliau berdakwah untuk masyarakat awam yang baru mempelajari Islam. Tokoh sufi sezaman dengan Arsyad namun berusia lebih muda adalah Muhammad Nafis ibn Idris al-Banjari, dilahirkan di Martapura pada 1735 M dalam keluarga bangsawan, dan dikenal luas sebagai pengarang kitab tasawuf berbahasa Melayu yang berjudul al-Durr al-Nafîs fî Bayân Wahdât al Af’âl wa al-Asmâ’ wa al-Shifât wa al-Dzât al-Taqdis (Mutiara yang Indah Menjelaskan Kesatuan Perbuatan, Nama, Sifat, dan Zat yang yang Disucikan). Martin van Bruinessen menyatakan bahwa Nafis adalah orang pertama yang menyebarkan Tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan, bukan Arsyad al-Banjari. Dari berbagai sumber yang bisa dilacak, dapat disimpulkan bahwa sejak penghujung abad ke-18, tasawuf sudah dikenal dan dipraktekkan secara luas oleh masyarakat Banjar. Di abad selanjutnya, abad ke 19, tasawuf tampaknya berkembang pesat, tidak hanya di masyarakat Banjar saja, melainkan juga di kalangan Dayak Bakumpai (yang dikenal sebagai Dayak Muslim di Kalimantan Selatan). Dalam perkembangannya, Kalimantan Selatan dikenal sebagai wilayah dengan basis kultur keislaman tradisional yang cukup kuat. Corak tasawuf tak bisa dilepaskan dari kultur keberislaman tradisional ini. Ia menjadi karakteristik yang melekat dan dipraktekkan dalam kehidupan keberagamaan masyarakat Banjar, baik dalam bentuk wirid-wirid harian yang dibaca secara nyaring sesudah sholat maupun amaliah lainnya pada waktu-waktu tertentu. Catatan sejarah Islam di Kalimantan Selatan merekam berbagai figur tokoh agama (ulama) yang juga merupakan pengamal ajaran tasawuf, baik yang lurus maupun yang kontroversial. Tokoh lurus misalnya Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai figur awal Islam Banjar, di samping ahli fikih juga dikenal sebagai tokoh sufi dan murid dari pendiri tarekat Samaniyyah. Keturunan beliau, K.H. Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul), tokoh ulama karismatik abad ke-20 juga pengikut tarekat Sammaniyah. Sementara figur kontroversial Banjar yang identik dengan Syek Siti Jennar dalam tradisi Islam Jawa adalah Datu Abulung yang dianggap mengajarkan tentang paham wahdatul wujud dan nûr muhammad. Figur ulama Banjar karismatik masa kini yang memiliki jamaah pengajian ribuan orang seperti Guru Danau (Guru Asmuni), Guru Bachiet, dan Guru Zuhdi juga dikenal sebagai ulama dengan kecenderungan sufistik yang kental. Guru Danau dan Guru Zuhdi memiliki amaliah rutin bersama jamaahnya yang identik dengan Guru Sekumpul. Sedangkan Guru Bachiet dikenal sebagai pengamal tarekat Alawiyyah. Sejumlah penelitian, baik dalam bentuk penelitian tesis, skripsi, penelitian dosen maupun artikel jurnal dan buku, telah dilakukan untuk menggambarkan dimensi tasawuf yang hidup di Kalimantan Selatan, baik itu yang mencakup wacana pemikiran yang meliputinya maupun deskripsi realitas amaliah yang dapat ditemukan di bumi Banjar ini. Namun sayangnya, karya-karya tersebut tidak mendapatkan publikasi yang cukup disebabkan oleh berbagai alasan, sehingga masyarakat luas umumnya, dan para akademisi di luar pelaku penelitian khususnya, tidak dapat mengambil manfaat dari adanya karya-karya tersebut. Padahal karya-karya tersebut seyogyanya menjadi bahan penting untuk diketahui khalayak luas sehingga kajian terhadap fenomena tasawuf di Kalimantan Selatan terus berkesinambungan dan berkembang, tidak terkesan jalan di tempat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pemetaan kajian yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya terkait pemikiran dan realitas tasawuf di Kalimantan Selatan. Dengan menggunakan studi bibliografi, diharapkan penelitian ini mampu memberikan gambaran terkait peta kajian tasawuf di Kalimantan Selatan secara lebih ringkas dan jelas sehingga para pembaca yang ingin mengetahui perkembangan tasawuf di Kalimantan Selatan dapat mengakses penelitian ini sebagai rujukan awal sebelum melanjutkan kajian pada tahapan yang lebih mendalam.

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Depositing User: Zulkifli Ariyadi
Date Deposited: 25 Aug 2016 02:40
Last Modified: 25 Aug 2016 02:40
URI: http://idr.iain-antasari.ac.id/id/eprint/6430

Actions (login required)

View Item View Item