EMPOWERS IDR

Penelusuran Data IDR
Telusuri data di dalam IDR kami menggunakan fungsi penelusuran lengkap (advanced).
Update Data IDR Terbaru

Lihat data yang sudah kami tambahkan ke IDR dalam seminggu terakhir.
Pedoman Unggah Mandiri
Sebelum mengupload dokumen, pastikan membaca Pedoman Unggah Mandiri untuk Depositor.
Traffic Pengunjung

Lihat traffic IDR kami. Dari mana mereka datang, device yang dipakai, konten apa saja yang mereka akses - cari, etc.

Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Di Junjung: Adaptasi Orang Banjar Di Negeri Khatulistiwa

Arman, Syamsuni and Rizieq, Rahmatullah and D. Talove, Rusliamsyah (2016) Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Di Junjung: Adaptasi Orang Banjar Di Negeri Khatulistiwa. In: Transpormasi Sosial Dan Intelektual Orang Banjar Kontemporer.

[img] Text
SYAMSUNI ARMAN. DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DI JUMJUNG ORIGINAL.pdf

Download (314kB)

ABSTRAK

ABSTRAK Urang Banjar atau Bubuhan Banjar adalah nama kelompok etnis asli Kalimantan yang pada awalnya berdiam di provinsi Kalimantan Selatan, dan kemudian menyebar ke beberapa provinsi di Kalimantan seperti Kalimantan Timur. Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2000 jumlah mereka mencapai angka 3.621.586 jiwa. Di Provinsi Kalimantan Barat penduduk Urang Banjar berjumlah 50.000 jiwa dan di Malaysia bubuhan Banjar berjumlah 519.000 jiwa. Bubuhan Banjar mencakup individu yang lahir dari perkawinan dimana kedua atau salah satu orang tuanya berasal dari etnis Banjar. Bubuhan Banjar di perantauan masih merasakan gelora kesenian Banjar meskipun hanya pernah dulu diceritakan oleh neneknya yang asli Banjar. Perilaku ke-Banjar-an itu lebih dipertegas lagi oleh bahasa yang dipakai ketika berjumpa orang sesuku (bahasa Banjar), agama yang dianut (Islam), serta budaya dan adat istiadat yang dibingkai kaidah agama. Keberadaan Urang Banjar di Kalimantan selalu dikaitkan dengan proses migrasi orang Melayu dari daratan Asia Tengah yang telah berlangsung dalam 3 gelombang: pertama sekitar 2500 SM, kedua 1500 SM, dan gelombang ketiga sekitar 300 SM.Di Kalimantan kelompok migran gelombamg pertama(proto Melayu) berinteraksi dengan kelompok-kelompok lokal dan melahirkan kelompok-kelompok etnis yang menyebut dirinya orang Dayak. Dalam proses migrasi gelombang kedua,migran Melayu berinteraksi dengan kelompok-kelompok etnis Dayak yang berbeda-beda, sehingga antara lain melahirkan 3 subetnis Urang Banjar: Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu, dan Banjar Kuala. Etnis Banjar yang hidup di Kalimantan Selatan pun tidak semuanya tetap bermukin disana, dengan berbagai alasan mereka melanjutkan tradisi hijrah ke tempat lain. Urang Banjar yang hijrah ke Kalimantan Barat datang dengan alasannya masing, seperti pertahanan, keamanan, perdagangan, pertambangan, da’wah agama, dan pekerjaaan. Adaptasi Urang Banjar yang tumbuhsejalan dengan proses migrasi Melayu yang panjang tersebut melahirkan pola adaptasi sosial yang “lembut”, sehingga jarang sekali menimbulkan konflik dengan kelompok mastautin yang sudah lama menetap di daerah itu. Kongres Kebudayaan Ke V di Padang yang lalu menyetujui pepatah yang berbunyi “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” sebagai slogan nasional. Bagi Urang Banjar prinsip ini sudah mendarah daging dan menjadi bagian dari pendidikan keluarga. Syamsuni Arman Rahmatullah Rizieq Rusliansyah D. Talove

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Depositing User: Zulkifli Ariyadi
Date Deposited: 22 Aug 2016 07:23
Last Modified: 22 Aug 2016 07:23
URI: http://idr.iain-antasari.ac.id/id/eprint/6325

Actions (login required)

View Item View Item