EMPOWERS IDR

Penelusuran Data IDR
Telusuri data di dalam IDR kami menggunakan fungsi penelusuran lengkap (advanced).
Update Data IDR Terbaru

Lihat data yang sudah kami tambahkan ke IDR dalam seminggu terakhir.
Pedoman Unggah Mandiri
Sebelum mengupload dokumen, pastikan membaca Pedoman Unggah Mandiri untuk Depositor.
Traffic Pengunjung

Lihat traffic IDR kami. Dari mana mereka datang, device yang dipakai, konten apa saja yang mereka akses - cari, etc.

Paradigma Pendidikan Islam

Kamrani, Buseri (2005) Paradigma Pendidikan Islam. In: Disampaikan Pada Rapat Senat Terbuka dalam Rangka Pengukuhan Guru Besar IAIN Antasari Banjarmasin, 2 Maret 2005, IAIN Antasari.

[img]
Preview
Text
Paradigma.pdf

Download (167kB) | Preview

ABSTRAK

Pendidikan Islam sebagai sebuah sistem yang terefleksi dalam berbagai bentuk kelembagaan pendidikan seperti madrasah dan pesantren memperlihatkan sesuatu kesungguhan, karena selain telah memiliki program yang jelas juga telah mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Dalam kenyataannya lembaga pendidikan madrasah dan pesantren memiliki corak yang berbedabeda antara yang satu dengan lainnya, dan akibatnya menghasilkan produk yang beragam pula. Dari segi dinamika penyelenggaraan boleh jadi itu menunjukkan pluralisme pendidikan Islam, akan tetapi perbedaan produk itu belum membuktikan jenis dan tingkat kualitas yang sesuai dengan apa yang diharapkan baik ditinjau dari segi pandangan keagamaan (Islam) maupun ditinjau dari takaran kualitas SDM. Adakalanya produknya memiliki sikap dan nilai yang sangat bertentangan dengan substansi ajaran, menciptakan manusia anti teknologi dan patalistik, menyuburkan kecenderungan kultus individu, mengkuduskan sesuatu yang tidak harus dikuduskan, tercampurnya antara nilai instrumentalis dan nilai substansialis, mengibadahkan sesuatu yang tidak ibadah, serta memiliki pandangan subyektif terhadap agama yang dianut1 . Di segi lain kurang memiliki 1 Berbagai corak nilai-nilai ilahiah yang berkembang di kalangan remaja pelajar dikemukakan secara luas dalam Kamrani Buseri, Nilai-Nilai Ilahiah Remaja Pelajar: Telaah 2 kompetensi yang dibutuhan oleh sebuah aktivitas profesional dalam berbagai bidang kehidupan seperti kelemahan penguasaan alat teknologi komputer, teknologi pertanian, pertambangan termasuk manajemen perdagangan. Akibat dari produk pendidikan seperti itu, muncullah kelemahan umat Islam secara umum sebagaimana yang diutarakan oleh Mahatir Muhammad (1989: 21-22). It would appear to me that any Muslims have accepted and to some extent have taken pride in their ignorance with unbelievable satisfaction. We are in acute social, economic and political agony, yet many Muslims have adopted a strangely false sense of scurity: reading the Qur’an will bring them thawab or blessings even if they do not understanding or practice it; going out on tabligh or propagation will scure a piece of paradise; writing phamplets and propaganda sheets will win support for Islam. But this preoccupation with gaining merit for self is too narrow. Muslims must establish a thriving and dynamic society because there can only be a hereafter for us if we survive as Muslims. … Understanding Islam does not mean only the ability to explain a hadith, or outline the mechanics of certain rituals or recite verses the Qur’an. Understanding Islam also means the capacity to explain and put into practice its dynamic and vibrant concepts in contemporary society. Sebenarnya pendidikan Islam bukan berada pada ruang hampa, tetapi berpapasan dengan berbagai sistem dan sub sistem lainnya. Di negara kita ia Phenomenologis dan Strategi Pendidikannya, UII Press, Yogyakarta, 2004. 3 berpapasan dengan sistem pendidikan nasional dengan segenap implementasinya. Ia berpapasan dengan sub sistem sosial kemasyarakatan yang belum tentu Islami, berpapasan dengan aliran dan faham keagamaan yang antara satu dan lainnya memiliki kutub ektrimnya masing-masing. Semuanya memberikan dampak sosiologis dan filosofis terhadap pendidikan Islam. Persoalan-persoalan lain, pendidikan Islam setelah berpapasan dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari rumpun budaya positifistik, muncul permasalahan baru antara lain adanya kecenderungan pendidikan kepada aspek yang teramati, terukur, dan sekuler. Pendidikan modern telah mengembangkan sikap pengetahuan demi kehidupan dan mengembangkan faham sekularisme dan individualisme (Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, 1979: 14). Menurut Muhammad Qutb, di dunia muslim, agama berangsur-angsur lenyap dari pemikiran dan hati mereka. Rumah dan lingkungan berkontradiksi yang semakin memperparah keadaan dan kurikulum sekolah tidak mencukupi. Pendidikan formal di sekolah atau pendidikan melalui khutbah-khutbah, penerangan agama melalui radio dan televisi jauh dari keberadaan agama dan seringkali irreligius? Diketahui bahwa materi yang diajarkan dan metode yang digunakan sama sekali tidak berbeda dari apa yang ada di Barat yakni dunia yang mutlak anti agama, walaupun keadaan itu disembunyikan di belakang layar sekularisme (Ibid : 28-29). Terpilahnya penilaian (evaluasi) antara pengetahuan dan penghayatan keagamaan dalam evaluasi hasil belajar, mengurangi makna pendidikan itu sendiri, sebab pendidikan agama dikatakan berhasil 4 bilamana nilai telah menyatu dalam peribadi anak di saat berkomunikasi dengan dunianya. (M.I. Soelaeman, 1988: 90). Memperhatikan kenyataan-kenyataan tersebut, pada dasarnya kelemahan pendidikan Islam atau pendidikan di kalangan orang muslim mencakup kelemahan filosofik, teoritik bahkan operasionalnya. Paradigma atau kerangka berpikir pendidikan Islam yang akan dikemukakan ini mencoba untuk membenahi sebagian dari kelemahan itu khususnya dari sudut filosofik-teoritik.

Item Type: Conference or Workshop Item (Speech)
Subjects: L Education > L Education (General)
Depositing User: Juhaidi Ahmad AJ
Date Deposited: 15 Jul 2015 02:02
Last Modified: 15 Jul 2015 02:44
URI: http://idr.iain-antasari.ac.id/id/eprint/457

Actions (login required)

View Item View Item