EMPOWERS IDR

Penelusuran Data IDR
Telusuri data di dalam IDR kami menggunakan fungsi penelusuran lengkap (advanced).
Update Data IDR Terbaru

Lihat data yang sudah kami tambahkan ke IDR dalam seminggu terakhir.
Pedoman Unggah Mandiri
Sebelum mengupload dokumen, pastikan membaca Pedoman Unggah Mandiri untuk Depositor.
Traffic Pengunjung

Lihat traffic IDR kami. Dari mana mereka datang, device yang dipakai, konten apa saja yang mereka akses - cari, etc.

Konsep Ketentraman Dalam Al-Qur’an

Uli, Wira Maqna (2015) Konsep Ketentraman Dalam Al-Qur’an. Skripsi, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora.

[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (188kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB IV.pdf

Download (158kB) | Preview

ABSTRAK

Wira Maqna Uli, 0901420732, Konsep Ketentraman Dalam Al-Qur’an, Jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin & Humaniora, Pembimbing: (I) Dra. Mulyani, M.Ag (II) dan H. Ibnu Arabi, S.Ag., M.Fil.I. Ketenangan, kedamaian, ketenteraman adalah dambaan setiap orang karena ketenangan kedamaian, ketenteraman adalah bingkai kebahagian dalam hidup. Hal ini pun tidak jarang membawa problem dalam kehidupan setiap manusia. Bagi seorang muslim, hal ini secara otomatis menuntut untuk kembali merujuk kepada dua hal pokok yakni al-Qur’an dan al-Hadis sebagai dasar agama Islam, karena perujukan kepada al-Qur’an dan al-Hadis dalam segala aspek kehidupan menjadi sebuah keniscayaan. Untuk mencapai hal tersebut sudah seharusnya manusia mengoptimalkan potensi yang diberikan Allah. Potensi tersebut adalah panca indera, akal dan kalbu yang bisa dioptimalkan dengan cara meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat. Tidak hanya bersifat materi melainkan juga yang bersifat immateri yang bisa didapat dengan kebersihan hati dan jiwa yang tenang. Berangkat dari problema tersebut penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai pemahaman dan makna Ketentraman dalam al-Qur’an. Apakah ketenangan yang hanya menerima begitu saja keadaan tanpa berbuat sesuatu ataukan ketenangan yang senantiasa membuat manusia proaktif, bagaimana pemahaman Ketentraman dalam al-Qur’an dipahami untuk menghadapi kerasnya zaman yang terus bergerak. Fokus kajian dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep Ketentraman dalam al-Qur’an. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik yakni menuturkan, menggambarkan dan mengklasifikasikan secara obyektif data yang dikaji sekaligus menginterprestasikan dan menganalisis data. Dalam hal ini penyusun berusaha menggambarkan objek penelitian yaitu berbagai penafsiran terhadap ketentraman kemudian menganalisis dengan penafsiran tematik, tentunya peneliti dalam mencari jawaban dari rumusan masalahnya adalah dengan cara mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang satu. Atau dengan kata lain, penelitian mengumpulkan ayat yang bersama-sama membahas topik mutmainnah dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan dan keterangan serta hubunganhubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya. Kesimpulan mengenai permasalahan yang telah dirumuskan yaitu mutmainnah adalah ketenangan jiwa yang condong kepada nilai-nilai ketuhanan dan mengikuti petunjuk-petunjuk ilahi. Mutmainnah adalah jiwa yang beriman dan tidak digelitik rasa takut dan duka dalam hati. Mutmainnah bisa diartikan sebagai jiwa yang ikhlas, yakni beriman, dan juga jiwa yang ridha vii dengan ketentuan Allah dan yang tahu bahwa sesuatu yang menjadi bagiannya pasti akan datang kepadanya. Jiwa yang tenang itu tumbuh karena kemampuan menempatkan sesuatu kepada tempat yang sewajarnya dan senantiasa meletakkannya di atas iman. Dengan dasar iman, maka manusia akan menerima segala sesuatu yang dihadapinya. Dalam al-Qur’an an-Nafs al-Mutmainnah didorong oleh faktor pertama berupa faktor internal, adalah daya kalbu manusia yang memiliki sifat ilahiyah, jika kalbu berkuasa maka ia mampu memberikan garansi ketenangan dan keimanan. Kedua, faktor eksternal berupa penjagaan dari dan hidayah dari Allah Swt. Hidayah (petunjuk) Dari Allah Swt sangat membantu manusia dalam menemukan jati dirinya. Manusia dengan kemampuannya sendiri tanpa diberi hidayah akan sangat sulit untuk menemukan jati dirinya, sebagai Nabi Adam as. telah menggunakan potensinya, bahkan menguasai disiplin ilmu, tetapi ia belum mampu menjaga eksistensinya yang baik sehingga ia tergelincir dan terlempar dari surga. Nabi Adam as. baru memiliki eksistensinya yang sebenarnya ketika diberi dari Allah Swt.

Item Type: Skripsi
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
Depositing User: Mr. Moch Isra Hajiri
Date Deposited: 10 Aug 2015 02:21
Last Modified: 10 Aug 2015 02:21
URI: http://idr.iain-antasari.ac.id/id/eprint/1244

Actions (login required)

View Item View Item