EMPOWERS IDR

Penelusuran Data IDR
Telusuri data di dalam IDR kami menggunakan fungsi penelusuran lengkap (advanced).
Update Data IDR Terbaru

Lihat data yang sudah kami tambahkan ke IDR dalam seminggu terakhir.
Pedoman Unggah Mandiri
Sebelum mengupload dokumen, pastikan membaca Pedoman Unggah Mandiri untuk Depositor.
Traffic Pengunjung

Lihat traffic IDR kami. Dari mana mereka datang, device yang dipakai, konten apa saja yang mereka akses - cari, etc.

Catur Warna dalam Perspektif Penganut Agama Hindu di Banjarmasin

Maskur, Muhammad (2014) Catur Warna dalam Perspektif Penganut Agama Hindu di Banjarmasin. Skripsi, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora.

[img]
Preview
Text
BAB I Pendahluan 1-13.pdf

Download (88kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III Penyajian Data Penelitian 41-68.pdf

Download (154kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB IV Analisis 69-74.pdf

Download (48kB) | Preview

ABSTRAK

Muhammad Maskur. “Catur Warna dalam Perspektif Penganut Agama Hindu di Banjarmasin”. Skripsi, Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin, Pembimbing : Rahmadi, S. Ag., M. Pd. I dan Ahmad S. Ag., M. Fi. I. Kata kunci : Catur Warna, Kasta dan Stratifikasi Sosial Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya pandangan yang telah beredar luas di masyarakat, mereka menyatakan bahwa Kasta merupakan ajaran pokok dalam agama Hindu, namun yang ada dalam agama Hindu adalah Catur Warna. Adapun permaslahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep Catur Warna dalam perspektif penganut agama Hindu di Banjarmasin, apakah persamaan dan perbedaan Catur Warna dengan Kasta, serta apakah status ekonomi, profesi dan pendidikan seseorang dalam agama Hindu bisa mengubah posisi Catur Warnanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konsep Catur Warna dalam perspektif penganut agama Hindu di Banjarmasin, secara khusus untuk mengetahui pandangan mereka mengenai persamaan dan perbedaan Catur Warna dengan Kasta, serta untuk mengetahui kemungkinan adanya perubahan status ekonomi, profesi, dan pendidikan dalam Catur Warna. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diadakan penelitian, jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dalam menggali data dengan mengunakan metode wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Adapun untuk menentukan siapa yang dipilih sebagai subjek yaitu, (a) Pemeluk agama Hindu yang merupakan tokoh agama Hindu seperti Pandita, Pinandita, Pemuka Agama, Guru-guru agama, Pamangku dan lain sebagainya, dan (b) mereka yang bisa dimintai informasi mengenai penelitian ini. Teknik pemilihan subjek penelitian ini mengunakan metode Purposive Sampling. Adapun kriteria yang menjadi subjek adalah penganut agama Hindu yang berdomisili di Banjarmasin dan menguasai pesoalan-persoalan dalam agama Hindu terutama mengenai konsep Catur Warna dan Kasta. Dalam menganalisisnya dengan mengunakan metode pendekatan normatif dan sosiologis. Dengan mengunakan metode tersebut, penulis dapat mengetahui bagaimana pendapat, pandangan penganut agama Hindu yang berdomisili di Banjarmasin mengenai konsep Catur Warna. Catur Warna menurut penganut agama Hindu merupakan ajaran pokok dalam agama dan terdapat di dalam Weda serta harus dilestarikan dan merupakan spesialis kerja, atau pembagian tugas kerja dalam masing-masing Warna. Catur Warna itu adalah Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra dan tidak ada yang kelima. Sedangkan Kasta menurut mereka (penganut agama Hindu) adalah produk portugis dan terikat oleh status kelahiran, sehingga setiap orang tidak dapat berpindah ke Kasta yang lainnya. Kasta ada empat yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra serta ada golongan yang kelima yaitu Paria. Dalam Catur Warna setiap orang bisa berpindah posisi ke Warna mana saja sesuai Guna Karmanya (bakat dan profesi) yang lebih dominan di masyarakat. Di dalam kitab Manawa Dharma Sastra dinyatakan “Demikian seorang Sudra bisa menjadi Brahmana, demikian Brahmana bisa menjadi Sudra (karena Guna Karmanya). Demikian pula halnya dengan Ksatria dan Waisya”. Catur Warna dapat dikatakan sebagai stratifikasi sosial terbuka (open sosial stratification), sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk pindah posisi ke Warna apa saja tanpa adanya ikatan yang pasti seperti jumlah kekayaan, kepandaian dll. Adapun Kasta merupakan stratifikasi sosial tertutup (closed sosial stratification) serta terikat oleh status kelahiran, sehingga membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan kelapisan yang lain, baik yang gerak ke atas atau ke bawah. Satu-satunya yang menjadi jalan untuk menjadi anggota dalam lapisan sosial adalah kelahiran.

Item Type: Skripsi
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion
Depositing User: Zulkifli Ariyadi
Date Deposited: 04 Aug 2015 04:49
Last Modified: 04 Aug 2015 04:49
URI: http://idr.iain-antasari.ac.id/id/eprint/1023

Actions (login required)

View Item View Item